Peluang kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dengan Duta Besar Republik Ekuador untuk Indonesia, Luis Guillermo Arellano Jibaja, di Pendopo Kota Bandung, Rabu 14 Oktober 2026.
Penjajakan ini menjadi langkah untuk menindaklanjuti hubungan antarkota yang sebelumnya telah dirintis melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) Kerja Sama Kota Sahabat pada 10 Agustus 2017.
Farhan menyambut baik peluang tersebut. Ia menekankan pentingnya menyusun program konkret yang sesuai dengan potensi kedua kota agar kerja sama tidak berhenti pada pembicaraan diplomatik.
“Kerja sama ini perlu diarahkan pada bidang-bidang yang konkret dan dapat dilaksanakan, sehingga memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujar Farhan.
Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Jadi Peluang Kolaborasi
Salah satu bidang yang dibahas adalah pengembangan kebudayaan dan ekonomi kreatif. Pihak Ekuador menawarkan sejumlah kegiatan yang dapat dijajaki di Bandung, seperti pameran cokelat, kopi, kerajinan tangan, tekstil, pemutaran film, serta pertunjukan seni dan musik tradisional.
Bandung juga berpeluang memperluas jejaring pelaku ekonomi kreatif, termasuk pengusaha cokelat artisan. Kolaborasi dapat dikembangkan melalui pengenalan produk, pertukaran pengalaman, dan promosi produk unggulan dari kedua negara.
“Kota Bandung memiliki potensi di bidang musik, seni rupa, film dan berbagai kegiatan kebudayaan yang dapat dikembangkan bersama,” kata Farhan.
Untuk merealisasikan peluang tersebut, Pemkot Bandung akan menjajaki keterlibatan pusat kebudayaan, ruang pertunjukan, teater, dan komunitas seni sebagai calon mitra penyelenggaraan kegiatan budaya Ekuador di Bandung.
Bandung dan Cuenca Bertukar Pengalaman Pelestarian Bangunan Bersejarah
Pelestarian bangunan bersejarah turut menjadi agenda penting dalam penjajakan kerja sama ini. Kedua kota berpeluang saling bertukar pengetahuan mengenai perlindungan bangunan cagar budaya, dokumentasi sejarah, serta pengelolaan kawasan bersejarah.
Farhan menjelaskan, rumah dinas Wali Kota Bandung memiliki sejarah panjang sejak dibangun pada 1875. Pengalaman Bandung dalam merawat dan mendokumentasikan bangunan bersejarah dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dengan Cuenca.
Sebaliknya, pengalaman Cuenca dalam melestarikan kawasan bersejarah dapat menjadi referensi bagi Bandung untuk memperkuat upaya perlindungan warisan budaya.
“Kota Bandung dapat belajar dari pengalaman Cuenca dalam pelestarian kawasan bersejarah, sekaligus bertukar pengetahuan mengenai pengelolaan dan perlindungan bangunan cagar budaya,” ungkapnya.
Sebagai langkah lanjutan, kedua pihak menjajaki kemungkinan menggelar konferensi video dengan melibatkan institusi terkait di Ekuador. Forum tersebut diharapkan membantu menentukan bidang pertukaran pengetahuan dan bentuk kolaborasi yang dapat dijalankan.
Sepak Bola Perempuan Masuk Agenda Penjajakan
Di bidang olahraga, Farhan mengusulkan penjajakan kerja sama dalam pembinaan atlet usia muda, pengembangan sepak bola perempuan, dan ilmu keolahragaan atau sport science.
Kolaborasi dapat dimulai melalui pertukaran pengetahuan antarakademi serta program pembinaan pemain muda. Selanjutnya, kerja sama bisa diperluas sesuai kesiapan dan kebutuhan kedua pihak.
Farhan juga mengusulkan pertukaran pelatih sepak bola perempuan serta peluang bagi pemain muda perempuan Indonesia untuk mendapatkan pengalaman latihan di Ekuador.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Ekuador menyampaikan pengalaman pengembangan sepak bola perempuan di negaranya, termasuk partisipasi tim dalam kompetisi internasional di kawasan Amerika Latin.
Selain itu, muncul gagasan untuk menjajaki pemanfaatan salah satu stadion di Bandung sebagai pusat pelatihan nasional bagi tim nasional sepak bola perempuan Indonesia. Namun, gagasan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut bersama institusi dan pemangku kepentingan terkait.
Pemutaran Film Ekuador dan Pertukaran Pendidikan
Bidang pendidikan dan pertukaran kebudayaan juga menjadi bagian dari pembicaraan. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah pemutaran film Ekuador di Bandung untuk memperkenalkan kehidupan sosial, karakter masyarakat, serta kebudayaan negara Amerika Selatan tersebut kepada masyarakat Indonesia.
Farhan menyambut baik gagasan itu dan membuka peluang penjajakan bersama fasilitas pemutaran film, komunitas, serta institusi terkait di Kota Bandung.
Berbagai peluang tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kota Bandung melalui koordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Ekuador.
Koordinasi itu akan difokuskan pada penentuan bidang prioritas, identifikasi calon mitra pelaksana, dan penyusunan mekanisme kerja sama yang memungkinkan untuk diterapkan.
Melalui langkah tersebut, Pemkot Bandung berharap penjajakan dengan Cuenca dapat berkembang menjadi program yang terarah dan memberikan manfaat nyata, baik bagi pengembangan kebudayaan, ekonomi kreatif, pelestarian sejarah, pendidikan maupun olahraga di kedua kota. (*Red)











