Program Gaslah Jadi Garda Terdepan Pengelolaan Sampah Berbasis RW di Kota Bandung

Program Gaslah Jadi Garda Terdepan Pengelolaan Sampah Berbasis RW di Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat Siskamling Siaga Bencana ke-81 di Kelurahan Sadang Serang, Rabu (4/2/2026).

Bandung, sebelas12.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menempatkan program Gaslah (Petugas Pemilah) sebagai ujung tombak pengelolaan sampah berbasis wilayah. Langkah ini muncul setelah pengelola TPA Sarimukti memangkas kuota pembuangan sampah.

Pemangkasan kuota sebesar 20 persen atau sekitar 300 ton per hari mendorong Pemkot Bandung menangani sampah langsung dari rumah tangga di tingkat RW.

Dalam kondisi tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Gaslah memainkan peran penting untuk memastikan warga memilah sampah secara konsisten.

“Gaslah menjadi garda terdepan di RW. Mereka memastikan warga memilah sampah dari rumah,” ujar Farhan saat Siskamling Siaga Bencana ke-81 di Kelurahan Sadang Serang, Rabu (4/2/2026).

Farhan: Pemilahan Sampah Harus Dimulai dari Rumah

Selain itu, Farhan menegaskan Pemkot Bandung menargetkan penyelesaian sampah organik di tingkat RW. Warga mengolah sampah organik secara mandiri, sementara petugas mengangkut sampah non-organik sesuai jadwal.

Dengan demikian, Pemkot Bandung menerapkan prinsip “sampah hari ini habis hari ini” untuk mencegah penumpukan sampah.

Di lapangan, Gaslah mendampingi warga saat memilah sampah, mengawasi pengolahan, dan berkoordinasi dengan kelurahan serta DLH.

Sementara itu, RW yang belum memiliki fasilitas pengolahan mengalihkan sementara sampah ke kelurahan atau lokasi terpusat.

Sebagai contoh, Kelurahan Sadang Serang memiliki 21 RW. Setiap RW menghasilkan sekitar 25 kilogram sampah organik per hari.

Dengan peran Gaslah, warga dapat mengelola sekitar 525 kilogram sampah organik setiap hari tanpa membuangnya ke TPA.

Selanjutnya, warga mengolah sampah organik menjadi kompos. Pemkot Bandung menyerap seluruh kompos hasil produksi warga.

“Pemkot mengambil 100 persen kompos yang dilaporkan. Dengan demikian, Gaslah memastikan koordinasi dengan DLH berjalan,” kata Farhan.

Integrasi Gaslah dengan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat

Selain itu, Pemkot Bandung mengintegrasikan Gaslah dengan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat. Kompos mendukung Buruan Sae, dan hasil panen dimanfaatkan Dapur Dahsat. Sisa organik pun kembali diolah.

Targetkan Sistem “Sampah Hari Ini Habis Hari Ini”

Akhirnya, Pemkot Bandung menilai pendekatan berbasis RW meningkatkan kesadaran warga sekaligus memperkuat kemandirian wilayah.

Dengan target tersebut, Pemkot Bandung menargetkan pengelolaan sampah yang cepat, tertib, dan berkelanjutan. Warga pun semakin mandiri dan ketergantungan pada TPA berkurang. (*Red)