Bandung, sebelas12.com – Di tengah upaya Kota Bandung mengatasi persoalan sampah yang terus menjadi tantangan, sebuah inovasi berbasis masyarakat hadir dari RW 02 Kelurahan Pasirlayung. Melalui program Bersemi Farm Pasirlayung, sampah organik rumah tangga yang sebelumnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kini diolah menjadi sumber pangan bergizi berupa telur, ayam kampung, ikan, hingga entok.
Program tersebut dikembangkan oleh dosen Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa, melalui konsep peternakan terpadu berbasis pengolahan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).
Inovasi yang dikenal dengan nama Apartemen Ayam Maggot itu mampu mengubah limbah dapur seperti sisa makanan, kulit buah, dan sayuran menjadi sumber protein dalam waktu relatif singkat. Jika metode komposting konvensional membutuhkan waktu hingga beberapa bulan, maggot BSF mampu mengurai sampah organik hanya dalam waktu sekitar 48 jam.
“Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi,” ujar Linus saat ditemui di Pasirlayung, Selasa (23/6/2026).
Bersemi Farm Pasirlayung Terapkan Sistem Nyaris Tanpa Limbah
Konsep yang diterapkan dalam Bersemi Farm Pasirlayung mengedepankan prinsip ekonomi sirkular. Sampah organik dari rumah tangga dipilah menjadi dua kategori, yakni sisa makanan matang dan limbah dapur seperti kulit buah serta sayuran.
Sisa makanan matang dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan entok, sedangkan limbah dapur menjadi pakan utama maggot BSF. Selanjutnya, maggot yang telah berkembang digunakan sebagai sumber protein untuk pakan ternak dan ikan.
Sistem tersebut menciptakan siklus pengolahan yang nyaris tanpa limbah karena seluruh hasil sampingan kembali dimanfaatkan dalam proses produksi.
“Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat,” kata Linus.
Apartemen Ayam Maggot juga dirancang secara vertikal sehingga dapat diterapkan di lingkungan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Kandang ayam dibuat bertingkat, sementara area budidaya maggot ditempatkan di bagian bawah sehingga seluruh proses berjalan lebih efisien.
Kapasitas Pengolahan Sampah Capai 300 Kilogram per Hari
Saat ini fasilitas Bersemi Farm Pasirlayung mampu mengolah hingga 300 kilogram sampah organik setiap hari. Sementara volume sampah organik yang dihasilkan warga RW 02 baru berkisar antara 50 hingga 75 kilogram per hari.
Kapasitas tersebut dinilai mampu mendukung target pengurangan sampah organik di tingkat kewilayahan sekaligus membuka peluang kerja sama dengan lingkungan lain yang belum memiliki fasilitas pengolahan sampah.
Linus mengatakan kapasitas yang besar sengaja disiapkan agar dapat dimanfaatkan oleh wilayah lain sehingga sampah organik tidak lagi berakhir di TPA.
“Kalau ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini sehingga tidak lagi berakhir di TPA,” ujarnya.
Berawal dari Pengabdian Masyarakat dan Riset ITB
Lahirnya Bersemi Farm Pasirlayung tidak terlepas dari rekam jejak panjang Linus Pasasa dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.
Selain aktif melakukan penelitian di bidang fisika kebumian, mitigasi bencana, kecerdasan buatan, dan geofisika, Linus dalam beberapa tahun terakhir fokus mengembangkan pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.
Pada 2026, ia memimpin program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi pengolahan sampah organik berbasis maggot BSF dan ayam petelur untuk mendukung penurunan stunting serta program makan bergizi gratis.
Sebelumnya, pada 2024 dan 2025, berbagai program pengelolaan sampah rumah tangga, komposter, pupuk organik cair, hingga konsep zero waste juga telah dikembangkan bersama masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Perubahan Perilaku Warga Jadi Kunci Keberhasilan
Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
Menurutnya, edukasi pemilahan sampah telah dilakukan sejak 2023. Namun perubahan signifikan baru terlihat setelah hadirnya Program Gasla dan pembangunan Apartemen Ayam Maggot pada awal 2026.
Kini warga telah terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik, bahkan memilah limbah organik berdasarkan peruntukannya sebagai pakan ternak maupun pakan maggot.
“Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Bahkan saya sendiri ikut belajar bagaimana mengolah sampah yang benar agar bisa memberikan manfaat,” kata Rahayu.
Keberhasilan Bersemi Farm Pasirlayung mulai menarik perhatian berbagai pihak. Sejumlah kawasan di Kota Bandung seperti Bandung Wetan, Lebak Siliwangi, Tamansari, dan Cipadung telah mulai mereplikasi konsep serupa. Bahkan model pengelolaan sampah tersebut juga telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat sebagai salah satu alternatif solusi pengelolaan sampah perkotaan berbasis masyarakat.
Dengan pendekatan yang mengubah sampah menjadi sumber pangan dan nilai ekonomi, Bersemi Farm Pasirlayung menjadi contoh bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan dari tingkat lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. (*Red)











