Bandung, sebelas12.com – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti serius fenomena anak zero dose atau anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi dasar rutin pada tahun pertama kehidupannya.
Menurut Farhan, persoalan anak zero dose bukan sekadar data statistik kesehatan, melainkan ancaman nyata terhadap masa depan generasi muda.
“Fenomena anak zero dose bukan sekadar angka statistik. Di balik istilah itu ada masa depan anak-anak yang harus kita jaga bersama,” ujar Farhan saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono dalam kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing Mengejar Anak Zero Dose di Ruang Multimedia UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Farhan mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar dalam program imunisasi saat ini adalah masih adanya penolakan vaksin dan maraknya disinformasi yang berkembang di masyarakat.
Ia mengakui, sebagian masyarakat masih menolak imunisasi akibat perbedaan pandangan maupun pengaruh informasi yang tidak tepat di media sosial.
Penolakan Vaksin Jadi Tantangan Serius
Farhan menegaskan, persoalan rendahnya cakupan imunisasi tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah dan tenaga kesehatan.
Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, Posyandu, akademisi, media massa hingga pengurus kewilayahan seperti RW untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya imunisasi.
“Kerja sama 360 derajat menjadi sangat penting agar anak-anak kita tidak kehilangan hak mendapatkan imunisasi dasar,” katanya.
Ia menilai edukasi yang masif dan berkelanjutan menjadi kunci menghadapi arus disinformasi yang kerap memengaruhi keputusan orang tua terkait vaksinasi anak.
Wamenkes: Indonesia Masih Hadapi Ancaman 2,3 Juta Anak Zero Dose
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengingatkan Indonesia masih menghadapi ancaman serius akibat tingginya jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar.
Menurut Dante, pada tahun 2025 terdapat sekitar 2,3 juta anak di Indonesia yang masuk kategori zero dose. Anak-anak tersebut belum mendapatkan imunisasi campak, polio, DPT, maupun vaksin dasar lainnya.
“Cakupan imunisasi nasional memang sudah sekitar 80 persen, tetapi untuk menciptakan kekebalan komunal dibutuhkan minimal 90 persen,” jelas Dante.
Ia mengatakan, masih munculnya kasus campak dan penyakit menular lain menjadi indikator masih adanya celah perlindungan imunisasi di masyarakat.
Jawa Barat Dinilai Berhasil Tekan Angka Zero Dose
Dalam kesempatan itu, Dante mengapresiasi capaian Provinsi Jawa Barat yang berhasil menurunkan jumlah anak zero dose secara signifikan dalam satu tahun terakhir.
Dari sekitar 102 ribu anak pada tahun sebelumnya, jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 67 ribu anak.
“Penurunannya hampir 40 ribu anak. Ini capaian yang luar biasa,” katanya.
Menurut Dante, Kota Bandung memiliki peluang besar menjadi contoh nasional dalam penanganan anak zero dose melalui penguatan layanan kesehatan, optimalisasi Posyandu, dan kolaborasi lintas sektor.
Ia juga meminta media massa aktif menjadi bagian dari solusi dengan menyebarkan informasi yang benar mengenai imunisasi dan menangkal hoaks kesehatan yang beredar di media sosial.
“Media harus menjadi bagian dari solusi dengan menghadirkan informasi yang benar tentang pentingnya imunisasi,” ujarnya.
Dante menegaskan, menjaga kesehatan anak merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Karena itu, ia berharap kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat terus diperkuat agar seluruh anak Indonesia memperoleh hak dasar kesehatan secara merata. (*Red)











