BPBD Kota Bandung Siapkan Simulasi Gempa di Rusunawa Cingised, Warga Dilatih Hadapi Situasi Darurat

BPBD Kota Bandung Siapkan Simulasi Gempa di Rusunawa Cingised, Warga Dilatih Hadapi Situasi Darurat

Bandung, sebelas12.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung menyiapkan simulasi penanganan bencana gempa bumi di kawasan Rusunawa Cingised, Kecamatan Arcamanik, pada 6 September 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi BPBD Kota Bandung memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Simulasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga melatih warga agar mampu mengambil tindakan cepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk menekan dampak bencana.

Menurutnya, bencana tidak selalu dapat dicegah. Namun, risiko kerusakan maupun korban jiwa dapat diminimalkan dengan mengurangi kerentanan bangunan dan meningkatkan kapasitas manusia.

“Bencana itu harus dicegah, tapi dampak kerusakannya atau korban jiwanya bisa diminimalisir. Ada dua hal yang penting, yaitu kerentanan bangunan dan kapasitas manusianya,” ujar Didi dalam rapat koordinasi persiapan simulasi di Kantor BPBD Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2026.

Diawali Tabletop Exercise

Didi menjelaskan, sebelum simulasi lapangan digelar, BPBD terlebih dahulu meningkatkan pemahaman peserta melalui Tabletop Exercise (TTX).

Metode ini digunakan untuk menguji kesiapan peserta melalui skenario bencana. Warga dan pihak terkait akan memahami pembagian peran, pola komunikasi, alur koordinasi, hingga tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.

“Sekarang kita tingkatkan menjadi TTX, atau Tabletop Exercise. Kita ingin memaparkan apa yang harus kita lakukan, bagaimana pergerakan dan koordinasinya. Setelah itu, baru kita melakukan simulasi sesungguhnya,” katanya.

Menurut Didi, pendekatan tersebut penting agar edukasi kebencanaan tidak berhenti pada sosialisasi dan pemahaman teori. Masyarakat perlu memperoleh pengalaman langsung sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Dengan demikian, simulasi diharapkan mampu membentuk respons yang lebih cepat dan terarah ketika bencana benar-benar terjadi.

“Dengan metode simulasi, dengan YouTube dan lain sebagainya, kita harapkan lebih banyak yang bisa paham bagaimana kalau terjadi gempa, khususnya gempa bumi. Apa yang akan dilakukan?” tuturnya.

Warga Didorong Jadi Agen Kesiapsiagaan

Didi berharap kegiatan di Rusunawa Cingised tidak berhenti sebagai simulasi satu kali. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh warga diharapkan dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggal lainnya.

Warga yang mengikuti simulasi juga didorong menjadi agen perubahan dengan membagikan pengetahuan kebencanaan kepada masyarakat di sekitarnya.

“Mudah-mudahan setelah ini, ketika ada tempat lain yang meminta hal yang sama, bapak-ibu siap dan bisa menjadi narasumber di kegiatan yang lain,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas masyarakat merupakan bentuk kolaborasi untuk mendukung tugas BPBD sekaligus membangun budaya kesiapsiagaan bencana di Kota Bandung.

“Bapak-ibu sudah membantu tugas BPBD dan juga membantu masyarakat Kota Bandung untuk siap bersama,” tutur Didi.

Melalui simulasi tersebut, BPBD Kota Bandung berharap semakin banyak warga yang memahami langkah penyelamatan diri, komunikasi darurat, serta koordinasi ketika gempa bumi terjadi. Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi investasi penting untuk mengurangi risiko bencana di wilayah perkotaan. (*Red)