Bandung, sebelas12.com – Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung pada triwulan pertama tahun 2026 mencapai 5,76 persen atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,29 persen. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat yang terus meningkat.
Meski demikian, Pemerintah Kota Bandung mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama terkait kenaikan inflasi dan potensi ketimpangan kesejahteraan di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak naik.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri pengangkatan sumpah dan janji pengurus serta pengawas KPKB periode 2026–2031 di Kota Bandung.
Inflasi Jadi Tantangan di Tengah Tingginya Konsumsi Masyarakat
Menurut Farhan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi menunjukkan konsumsi masyarakat maupun belanja pemerintah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Namun peningkatan permintaan tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan pasokan barang di pasar.
Akibatnya, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga yang berkontribusi terhadap laju inflasi.
“Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung mencapai 5,76 persen. Namun yang harus diwaspadai adalah inflasi yang saat ini berada di angka 0,3 persen per bulan. Jika dihitung secara tahunan, sudah berada di atas 3,5 persen,” ujarnya.
Farhan menjelaskan, salah satu penyumbang inflasi berasal dari kenaikan harga bahan pangan, terutama cabai yang sempat mencapai Rp120.000 per kilogram.
Selain faktor pasokan, perubahan pola konsumsi masyarakat juga memengaruhi dinamika harga di pasar. Warga Kota Bandung dinilai semakin memilih produk dengan kualitas yang lebih baik dibanding hanya mempertimbangkan harga murah.
Koperasi Dinilai Punya Peluang Besar di Pasar Menengah
Farhan menilai karakteristik konsumen Kota Bandung yang didominasi kelas menengah menjadi peluang besar bagi koperasi untuk mengembangkan usaha yang lebih kompetitif.
Menurutnya, koperasi tidak harus selalu menawarkan produk murah, tetapi perlu menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang sesuai kebutuhan pasar.
“Konsumsi masyarakat Bandung sedang tinggi. Ini peluang bagi koperasi untuk menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang pantas. Koperasi bisa mengoptimalkan keuntungan sekaligus memberikan manfaat kepada anggotanya,” kata Farhan.
Dalam kesempatan tersebut, ia mendorong Koperasi Konsumen Mitra KPKB yang memiliki sekitar 4.500 anggota untuk memperluas usaha pada sektor-sektor yang memiliki permintaan tinggi, khususnya produk yang menyasar segmen menengah.
Investasi Emas Jadi Tren Baru Masyarakat
Selain perubahan pola konsumsi, Pemerintah Kota Bandung juga mencermati pergeseran perilaku investasi masyarakat.
Farhan mengungkapkan, masyarakat kelas menengah kini lebih tertarik pada instrumen investasi emas dibandingkan investasi berbasis surat berharga maupun pasar modal.
Melihat tren tersebut, ia mendorong koperasi untuk menjalin kerja sama dengan Pegadaian dalam mengembangkan layanan tabungan emas bagi anggota.
Menurutnya, produk investasi berbasis emas memiliki daya tarik karena dianggap lebih stabil dan mudah dipahami oleh masyarakat.
“Tabungan emas bisa menjadi salah satu produk yang menarik. Saat ini masyarakat cenderung mencari instrumen investasi yang lebih stabil dan sederhana,” ujarnya.
Koperasi Harus Menjadi Instrumen Pemerataan Kesejahteraan
Meski koperasi didorong untuk berkembang secara bisnis, Farhan mengingatkan bahwa tujuan utama koperasi bukan semata mengejar keuntungan.
Ia menegaskan koperasi memiliki fungsi sosial yang sangat penting dalam menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu berdampak langsung pada berkurangnya kesenjangan sosial. Oleh karena itu, koperasi harus memastikan seluruh anggota dapat menikmati manfaat ekonomi secara merata.
“Kita harus memastikan anggota yang pendapatannya belum tinggi juga memperoleh manfaat yang sama. Koperasi harus menjadi motor penggerak pemerataan kesejahteraan di Kota Bandung,” tegasnya.
Pengurus Koperasi Diminta Menjaga Integritas
Pada akhir sambutannya, Farhan berpesan kepada pengurus dan pengawas koperasi periode 2026–2031 agar mengedepankan profesionalisme, akuntabilitas, dan integritas dalam menjalankan organisasi.
Ia menilai keberhasilan koperasi dalam jangka panjang sangat ditentukan oleh tata kelola yang baik dan kepercayaan anggota.
“Integritas, integritas, dan integritas. Itu yang harus dijaga. Dengan integritas, manfaat koperasi akan dirasakan lebih luas dan kesejahteraan anggota dapat terwujud secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung yang terus meningkat, koperasi dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus menjadi jembatan pemerataan kesejahteraan di tengah tantangan inflasi dan perubahan perilaku konsumsi masyarakat. (*Red)











