Bandung, sebelas12.com – Pusat perbelanjaan Paris Van Java Mall atau PVJ Bandung menunjukkan keseriusannya dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Sejak 2014, mal yang menjadi salah satu ikon belanja di Kota Bandung itu konsisten menerapkan sistem pengolahan sampah mandiri berbasis pemilahan dan budidaya maggot.
Langkah tersebut bukan hanya berdampak pada pengurangan volume sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga berhasil memangkas biaya operasional hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.
General Affairs PVJ, Budi Santosa mengatakan, setiap hari pusat perbelanjaan tersebut menghasilkan sekitar 3 hingga 4 ton sampah. Volume sampah bahkan meningkat tajam saat akhir pekan karena lonjakan jumlah pengunjung.
“Sekitar 60 persen sampah yang dihasilkan merupakan organik, sisanya anorganik dan residu. Untuk organik, kami olah menggunakan sistem maggotisasi dan sejauh ini berjalan dengan baik tanpa kendala berarti,” ujar Budi, Kamis, 8 Mei 2026.
Budidaya Maggot Jadi Solusi Sampah Organik
Dari total sekitar 3,5 ton sampah harian, sebanyak 2 ton di antaranya merupakan sampah organik yang langsung diolah menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Metode tersebut memungkinkan sampah organik terurai lebih cepat dan menghasilkan kasgot atau pupuk organik berkualitas. Hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan perkebunan milik PVJ di kawasan Lembang.
Menurut Budi, sistem pengolahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 13 hingga 15 kilogram kasgot setiap hari. Sementara sampah anorganik dikelola melalui kerja sama dengan pihak ketiga.
“Selain mengurangi sampah ke TPA, hasil pengolahan juga punya nilai manfaat untuk kebutuhan perkebunan,” katanya.
Tenant Wajib Pilah Sampah, Pelanggar Didenda Rp500 Ribu
Pengelolaan sampah di PVJ dilakukan secara terintegrasi mulai dari tenant. Tercatat terdapat sekitar 350 tenant di kawasan mal tersebut, dengan sekitar 30 persen merupakan tenant makanan dan minuman yang menjadi penyumbang terbesar sampah organik.
Setiap tenant diwajibkan memilah sampah menggunakan ember khusus yang telah disediakan manajemen. Petugas kemudian melakukan pengangkutan sampah secara rutin pada malam hari.
PVJ juga menerapkan aturan tegas terhadap tenant yang tidak disiplin dalam memilah sampah.
“Kalau masih ada sampah yang tidak terpilah, kami tidak akan angkut. Bahkan kami kenakan denda Rp500 ribu dan dibuatkan berita acara pelanggaran. Ini bentuk komitmen kami agar semua tenant disiplin,” tegas Budi.
Ia mengungkapkan, kebijakan tersebut kini mulai membentuk budaya disiplin di lingkungan tenant, meski pelanggaran kecil masih sesekali ditemukan akibat kelalaian.
Biaya Pengelolaan Sampah Turun Hingga 50 Persen
Upaya pengelolaan sampah mandiri yang dijalankan PVJ terbukti berdampak signifikan terhadap efisiensi biaya operasional. Sebelum menerapkan sistem pengolahan sendiri, PVJ harus mengeluarkan biaya pengelolaan sampah hingga Rp40–50 juta setiap bulan.
Kini, biaya tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar Rp20 juta per bulan.
“Sekarang biaya itu bisa ditekan menjadi sekitar Rp20 juta saja. Artinya, selain menjaga lingkungan, ini juga efisien secara biaya,” ujar Budi.
Meski demikian, sampah residu yang tidak dapat diolah tetap dikirim ke TPA. Namun volume sampah yang dibuang kini jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.
PVJ memastikan komitmen pengelolaan sampah akan terus diperkuat, terutama seiring meningkatnya jumlah pengunjung setiap akhir pekan.
“Kami setiap hari berjibaku dengan sampah, apalagi saat weekend jumlahnya meningkat. Tapi kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk lingkungan,” katanya. (*Red)











