Menuju Smart IKM, Peneliti dan Pengrajin Rumuskan Indeks Kompetensi untuk Selamatkan Eksistensi Sepatu Tradisional

Bandung, sebelas12.com – Sentra industri alas kaki Cibaduyut menghadapi tantangan besar di tengah perubahan pasar, digitalisasi, dan gempuran produk impor. Untuk menjaga daya saing sekaligus mempertahankan warisan industri sepatu tradisional, tim peneliti dari perguruan tinggi menggagas penyusunan model kesiapan Smart Industri Kecil Menengah (IKM) berbasis kompetensi pengrajin.

Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Formulasi Model Kesiapan Smart Industri Kecil Menengah Melalui Craftsmanship Skills Index dan Komitmen Manajerial untuk Penguatan UMKM Sepatu Tradisional” yang digelar di Bandung, Rabu 24 Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Kemdiktisaintek 2026 Skema Penelitian Dasar yang bertujuan menyusun indikator kompetensi pengrajin sekaligus mengukur kesiapan transformasi digital pada sektor industri alas kaki tradisional.

Ketua Peneliti, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak dimaksudkan untuk menilai kemampuan para pengrajin, melainkan menggali pengalaman dan pengetahuan mereka sebagai pelaku utama industri sepatu.

Menurutnya, pengalaman lapangan para pengrajin menjadi sumber utama dalam menyusun Craftsmanship Skills Index (CSI), sebuah instrumen yang nantinya diharapkan mampu memetakan kompetensi teknis sekaligus menjadi dasar pengembangan industri alas kaki tradisional menuju era digital.

“Kami ingin belajar langsung dari para pengrajin yang selama puluhan tahun menjaga kualitas dan tradisi pembuatan sepatu. Masukan mereka sangat penting untuk menyempurnakan model yang sedang disusun,” ujarnya.

Cibaduyut Hadapi Tantangan Regenerasi dan Persaingan Global

Dalam diskusi tersebut, sejumlah tokoh dan pelaku industri menyampaikan pandangannya mengenai masa depan industri alas kaki Cibaduyut.

Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung, Roni Sukirman, menilai penguatan kolaborasi menjadi kunci utama menghadapi berbagai tantangan industri, mulai dari produksi, pemasaran hingga perubahan perilaku konsumen.

Menurutnya, pengembangan klaster alas kaki harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, akademisi, praktisi dan pengrajin agar daya saing industri dapat terus meningkat.

Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus pengrajin sepatu, Gun Gun Ruhiyadi, menegaskan bahwa industri alas kaki merupakan sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga di Cibaduyut. Ia berharap berbagai program peningkatan kompetensi dapat terus diperluas agar usaha para pengrajin tetap bertahan.

“Saya hidup dari sepatu,” ujarnya, menggambarkan betapa pentingnya keberlangsungan sektor ini bagi masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan perwakilan IKM, Ikin Sodikin. Ia mengingatkan bahwa nama besar Cibaduyut tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan industri jika tidak diiringi inovasi dan peningkatan kualitas produk.

Menurutnya, tantangan seperti ketergantungan terhadap bahan baku impor dan persaingan dengan produk luar negeri harus dijawab dengan peningkatan kapasitas pengrajin dan penguatan ekosistem industri.

“Jangan sampai Sepatu Cibaduyut itu tinggal nama saja, kaya dinosaurus,” katanya.

Delapan Kompetensi Jadi Dasar Craftsmanship Skills Index

Dalam FGD tersebut, tim peneliti memvalidasi delapan kompetensi utama yang akan menjadi dasar penyusunan Craftsmanship Skills Index.

Kompetensi tersebut meliputi desain dan konstruksi pola, seleksi material kulit maupun sintetis, konstruksi dan penjahitan upper, proses lasting atau pembentukan sepatu, pemasangan sol tradisional, finishing dan pengendalian kualitas, transfer pengetahuan kriya kepada generasi muda, hingga kesiapan pemasaran digital menuju Smart IKM.

Selain memvalidasi indikator kompetensi, tim peneliti juga mengkaji berbagai aspek kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai craftsmanship yang menjadi identitas utama sepatu tradisional Indonesia.

Pelatihan Praktis dan Subsidi Bahan Baku Jadi Harapan Pengrajin

Hasil diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi penting. Para peserta menilai pelatihan bagi pengrajin harus lebih aplikatif dan berkelanjutan, disertai pendampingan langsung di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.

Selain itu, dibutuhkan program lanjutan yang fokus pada peningkatan kualitas produk, penguatan strategi pemasaran, serta peningkatan daya saing UMKM alas kaki di pasar domestik maupun internasional.

Peserta juga mendorong adanya dukungan pemerintah berupa subsidi bahan baku atau material produksi guna membantu mengurangi beban biaya yang dihadapi pengrajin sepatu handmade.

Melalui penelitian ini, para akademisi dan pelaku industri berharap lahir sebuah model pengembangan yang mampu menjembatani pelestarian keterampilan tradisional dengan kebutuhan transformasi digital. Dengan demikian, sentra alas kaki seperti Cibaduyut, Garut, dan Ciomas Bogor dapat tetap bertahan, berkembang, dan menjadi kekuatan ekonomi daerah di tengah perubahan zaman.

Optimisme Wujudkan Smart IKM Berbasis Kearifan Lokal

FGD ini menjadi langkah awal dalam merumuskan strategi penguatan industri alas kaki tradisional yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga menjaga warisan keterampilan yang telah diwariskan lintas generasi.

Dengan dukungan pemerintah, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha, Smart IKM diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing sekaligus memastikan eksistensi sepatu tradisional Indonesia tetap bertahan dan berkembang di masa depan. (*Red)