Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Harus Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Seremonial

Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Harus Berdampak Nyata, Bukan Sekadar Seremonial
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., menjadi narasumber acara BEM KM Universitas Pasundan, di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 24 Januari 2026. (Indra/Humpro DPRD Kota Bandung)

Bandung, sebelas12.com – Program pengabdian kepada masyarakat menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus berkontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan warga. Pengabdian masyarakat merupakan satu dari tiga kewajiban utama perguruan tinggi selain pendidikan dan penelitian.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Upgrading Pengabdian Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Pasundan. Acara bertema “Grow to Make an Impact: Bergerak Bersama untuk Perubahan” ini digelar di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (24/1/2026).

“Mahasiswa bukan hanya pelajar, tetapi pelayan nilai dan penjaga nurani sosial. Di kampus mereka membangun fondasi keilmuan, sementara pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang nyata untuk berkontribusi membenahi persoalan sosial,” ujar dr. Agung.

Pengabdian Masyarakat Harus Berkelanjutan

Menurut dr. Agung, banyak program pengabdian masyarakat belum memberikan dampak nyata karena berhenti sebatas kegiatan seremonial. Hubungan antara mahasiswa dan masyarakat kerap terputus setelah program selesai dilaksanakan.

“Banyak dokumentasi, tetapi minim perubahan. Kegiatan berjalan, namun masalah tetap ada. Proyek selesai, relasi pun terputus. Seharusnya mahasiswa datang dengan solusi berdasarkan pemahaman kebutuhan masyarakat,” katanya.

Dalam paparannya bertajuk “Pengabdian Masyarakat: Dari Program Menjadi Dampak”, dr. Agung menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus dimaknai sebagai kehadiran yang bermakna. Mahasiswa tidak hanya menunjukkan simpati, tetapi merancang rencana aksi yang terorganisasi dan relevan dengan kondisi lokal.

“Datang ke masyarakat bukan untuk menggurui, tetapi untuk belajar. Tanggung jawab sosial harus dijalankan secara konsisten,” tuturnya.

Rumus Pengabdian Masyarakat yang Berdampak

Ia membagikan sejumlah prinsip agar pengabdian masyarakat benar-benar memberi dampak, antara lain:

  • Menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi warga dengan solusi relevan
  • Merancang pendekatan sesuai konteks lokal
  • Mengedepankan kolaborasi dan melibatkan warga sebagai subjek aktif
  • Membangun sistem mandiri agar program berkelanjutan

Dengan pendekatan tersebut, hasil pengabdian tidak berhenti pada program, tetapi mampu dilanjutkan oleh masyarakat secara mandiri.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dan Calon Pemimpin

Dr. Agung menambahkan, mahasiswa memiliki tiga peran utama di tengah masyarakat, yakni sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan calon pemimpin masa depan.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan mampu menginisiasi solusi yang beradab dan realistis, bukan sekadar menjadi pihak yang paling lantang bersuara. Contohnya melalui pembuatan sistem antrean layanan warga, pemetaan keluarga rentan agar bantuan tepat sasaran, hingga kelas literasi kesehatan dan keuangan.

Dalam fungsi kontrol sosial, mahasiswa dapat menyampaikan kritik berbasis data, melakukan advokasi sesuai kebutuhan masyarakat, serta mengawal kualitas layanan publik.

“Pemimpin dibentuk dari kedisiplinan nilai, kekuatan mental, kemampuan berpikir kritis, dan menepati janji. Jangan merusak kepercayaan masyarakat. Hormati budaya lokal dan libatkan tokoh masyarakat dalam setiap tahapan,” tegasnya.

Indikator Keberhasilan Pengabdian

Keberhasilan pengabdian masyarakat, lanjut dr. Agung, dapat dilihat dari perubahan perilaku warga, terbentuknya sistem baru yang menggerakkan potensi lokal, serta penurunan masalah yang terukur.

“Dampak pengabdian tidak selalu viral, tetapi harus terasa. Pengabdian yang baik melahirkan masyarakat yang mampu melanjutkan program. Kita bergerak bukan untuk terlihat, tetapi untuk berdampak,” pungkasnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar serta Ketua Tim Kerja SDM Kesehatan Asep Kamal Sahroni, dan dihadiri Wakil Rektor I Universitas Pasundan Prof. Cartono. (*Red)