Kemenko IPK Lirik Lahan Warga Batununggal, Berpotensi Jadi RTH Produktif dan Sentra Urban Farming

Kemenko IPK Lirik Lahan Warga Batununggal, Berpotensi Jadi RTH Produktif dan Sentra Urban Farming

Bandung, sebelas12.com – Kawasan lahan milik warga di wilayah Batununggal berpotensi dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau (RTH) produktif sekaligus sentra urban farming terpadu di Kota Bandung. Potensi tersebut mencuat setelah kunjungan perwakilan Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama Wali Kota Bandung.

Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Muhammad Farhan serta Asisten Deputi Penyelenggara Tata Ruang dan Penataan Agraria Djuang Fadjar Sodikin pada Rabu, 4 Maret 2026.

Lahan Urban Farming Dilirik Jadi Ruang Terbuka Hijau

Camat Batununggal, Latief menjelaskan, rombongan meninjau lahan warga yang selama ini telah dimanfaatkan masyarakat sebagai kawasan urban farming melalui program Buruan Sae.

Menurutnya, kunjungan awalnya terkait rencana pengelolaan sampah terpadu. Namun, pihak kementerian melihat potensi lain dari kawasan tersebut.

“Awalnya Pak Wali menyampaikan rencana pengelolaan sampah terpadu di sini. Namun dari kementerian melihat potensi lahan ini untuk dijadikan RTH,” ujar Latief.

Farhan pun disebut tertarik dengan potensi pengembangan kawasan tersebut. Ke depan, kemungkinan pembelian lahan oleh pemerintah masih terbuka, baik melalui kementerian maupun Pemerintah Kota Bandung. Namun demikian, rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lanjutan.

“Tapi untuk lahan ini apakah jadi dibeli atau tidak, masih akan dikoordinasikan lebih lanjut,” jelas Latief.

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Sentra Buruan Sae

Sebelumnya, lahan yang merupakan tanah adat milik warga itu sempat tidak terkelola dan cenderung terbengkalai. Setelah melalui koordinasi dengan masyarakat, lahan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai kawasan urban farming atau Buruan Sae.

Kini kawasan tersebut berkembang menjadi sentra pertanian kota yang produktif. Berbagai kegiatan dilakukan oleh warga, mulai dari peternakan ayam, kolam ikan, hingga budidaya sayuran seperti pakcoy.

Hasil produksi dari kawasan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung program penanganan stunting di wilayah Batununggal. Produk pertanian dan peternakan dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan digunakan sebagai bahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita.

“Dengan adanya Buruan Sae ini, hasilnya langsung dirasakan masyarakat. Dikelola warga dan dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi anak-anak,” kata Latief.

Jika rencana pengembangan tersebut terealisasi, kawasan ini berpotensi menjadi RTH produktif yang tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota, tetapi juga tetap mempertahankan konsep urban farming berbasis pemberdayaan masyarakat.

Konsep tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan Kota Bandung untuk memperluas ruang terbuka hijau sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tunggu koordinasi lanjutan antara Pemkot dan kementerian. Harapannya, lahan ini bisa memberikan manfaat jangka panjang, baik dari sisi lingkungan maupun sosial ekonomi,” pungkas Latief. (*Red)